Pernikahan dalam Islam

Pernikahan dalam Islam

Rabu, 30 Januari 2019 Referensi 346 Ashilla Zahra

Pernikahan adalah sebuah ibadah yang paling utama untuk menyempurnakan sebagian agama dari kaum laki-laki maupun perempuan, tujuan dari pernikahan yaitu untuk menekan syahwat dan menjaga pandangan dari yang bukan mahrom.
”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu,dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian- Nya) lagi Maha mengetahui”.(Q.S. An-Nuur : 32)

1. Sifat Pernikahan

Secara hukum islam, pernikahan terbagi dalam beberapa golongan sesuai dengan waktu dan kondisi dari seseorang. Pernikahan akan bersifat wajib jika orang tersebut sudah dapat dikatakan mampu dari segi pandangan usia, harta, dan kematangan berfikir. Bahkan jika orang tersebut tidak kunjung menikan dikhawatirkan akan terperosok ke dalam dosa zina.

Seorang dengan kondisi secara pandangan harta mencukupi, tetapi dari kematangan berfikir masih belum siap, dan kewajiban menuntut ilmu masih berjalan, maka orang itu masih dalam keadaan sunah untuk menikah, dengan syarat dapat menjaga diri dari hawa nafsu dengan berpuasa.

Pernahkan anda menjumpai seseorang yang menikah hanya karena mengubah status dan kenyataannya orang tersebut selalu disibu-kan dengan urusan duniawi sampai lupa dengan menjadi seorang pemimpin di keluarga kecilnya, maka pernikahan itu bersifat mubah yang artinya sia-sia.

Pernikahan bersifat haram jika kondisi seseorang memang belum memasuki umur yang ditentukan atau belum aqil baligh, dan juga secara pemikiran kematangan berfikir serta belum mampu untuk mencari harta sendiri. Kondisi pernikahan haram jika pernikahan dilakukan antara saudara kandung dan juga antara orang tua asli atau tiri dengan anak.

2. Nikah

Sebelum prosesi pernikahan biasanya seseorang laki-laki akan melamar perempuan, yang disaksikan oleh dua keluarga, lamaran tersebut bertujuan untuk bersilaturahmi dan membuat janji untuk memperoleh sebuah pernikahan pada hari yang di tentukan.

Jika di tengah perjalanan tiba-tiba putus hubungan atau pernikahan yang sudah ditetapkan dibatalkan dikarenakan pihak perempuan maka dari perempuan harus mengembalikan mahar yang diberikan oleh laki-laki, dan itu tidak wajib tergantung mempelai laki-lakinya mau menerima atau tidak, tetapi jika batal karena pihak laki-lakinya maka apa yang sudah diserahkan tidak bisa dikembalikan, dan sah dimiliki untuk calon perempuannya.

Pernikahan dapat dinyatakan sah apabila dipenuhinya rukun dan syarat sebuah pernikahan, dan berikut adalah, rukun pernikahan yang harus diperhatikan:

Laki laki/ Wanita

  • Beragama Islam dari laki-laki maupun perempuan (Beberapa pendapat dari ulama bahwa perempuan yang dinikahi dari laki-laki, diperbolehkan untuk dari kalangan non islam, dengan syarat anak yang terlahir harus masuk islam.)
  • Baligh
  • Sehat secara jasmani dan rohani
  • Mempunyai identitas yang jelas, terdaftar dalam data kependudukan Negara Indonesia
  • Mampu secara kesiapan mental berfikir
  • Tidak ada paksaan untuk menikah
  • Mendapat persetujuan dari sang Ayah atau orang tua

Dan syarat pernikahan yaitu harus adanya wali dan minimal dua orang saksi, wali berasal dari keluarga yang menjadi hak tanggung jawab penuh dari pihak perempuan yaitu ayahnya. Berikut adalah syarat sah untuk menjadi seorang wali pernikahan :

  • Laki-laki
  • Mempunyai hubungan dengan mempelai wanita
  • Beragama islam
  • Baligh
  • Sehat jasmani maupun rohani
  • Tidak ada paksaan dari kedua calon pengantin

Dan beberapa syarat sebagai saksi pernikahan adalah sebagai berikut :

  • Laki-laki minimal dua orang
  • Beragama islam
  • Baligh
  • Sehat jasmani maupun rohani
  • Tidak ada paksaan dari kedua calon pengantin
  • Menyaksikan saat prosesi ijab qobul
  • Paham dengan pernikahan

Setelah semua dapat terpenuhi mulai dari rukun dan syarat sahnya pernikahan, anda dapat langsung ke tahap selanjutnya yaitu ijab qobul. Ijab qobul dapat dilaksanakan di kantor KUA setempat. Tidak perlu mengadakan acara yang mewah, cukup dengan membayar mahar dan syukuran sederhana pernikahan pun tetap sah. Misalnya dengan membuat acara syukuran yang hanya mengundang teman-teman dekat, kerabat dan sebagian tetangga dengan sedikit mencetak undangan pernikahan yang murah dan sajian sederhana dibawah tenda yang juga sederhana, itupun sangat mungkin untuk dilakukan.