Contoh Cerpen Pendidikan

Contoh Cerpen Pendidikan

Cerpen atau cerita pendek tentu sudah tidak asing lagi untuk kita. Bahkan kita sudah pernah di beri tugas Bahasa Indonesia untuk membuat cerpen saat masih sekolah waktu dulu. Cerpen merupakan salah satu karya sastra yang berbentuk prosa.

Berikut contoh cerpen pendidikan yang kami dapat dari website pendidikan Yuksinau.id:

Perjuangan

Saat ini aku telah memiliki tujuan yang jelas, aku selalu penuh semangat ketika melangkahkan kakiku menuju ke sekolah.

Langkah semangat kakiku ini disebabkan karena bisa menatap langsung senyuman anak-anak yang mempunyai harapan yang tinggi. Senyuman itu bisa mengobati rasa perih yang ada di dalam dadaku.

Dirikupun masih teringat dengan apa yang terjadi di masa lalu, di saat Ayah dan Ibu tidak mengerti tentang betapa pentingnya pendidikan dan indahnya bisa menghargai perbedaan. Diriku hanyalah seorang wanita biasa saat ini, dan tidak di kenal siapapun dengan nama “Tika.

Di waktu itu, aku sedang mengerjakan tugas skripsi yang di berikan oleh dosen. Diriku bersandar pada pohon rindang yang berada di atas Bukit. Tiba-tiba seorang anak kecil dari kejauhan mendekati diriku, aku pikir mungkin anak kecil itu penasaran apa yang sedang ku tulis.

Ternyata pikiranku salah, di saat anak kecil itu menghampiri diriku penuh dengan rasa penasaran lalu ia pun bertanya “kenapa kakak memakai hijab yang sangat panjang dan besar?”

Akupun langsung menjawab pertanyaan dari anak kecil tersebut “seorang wanita harus menutup auratnnya agar tidak mendapatkan dosa karena itu adalah kewajiban dari wanita”. Setelah saya baru memberikan kata kepada anak kecil tersebut ia pun langsung pergi dari sisihku dengan rasa bingungnnya

Karena diriku sangat penasaran dengan anak tersebut akupun mengikutinnya dari belakangnya dan tidak lama kemudian sampailah di rumah anak kecil tersebut. Di saat sampai di rumahnnya aku melihat anak kecil itu langsung membantu pekerjaan dari orang tuannya, saat kulihat ternyata pekerjaan yang tidak seharusnnya di lakukan oleh anak seuuran Dia.

Akupun langsung menuju ke arahnya dan bertanya “Apakah kamu tidak sekolah ya dek?” sambil mengusap kepalanya.

“Aku sangat ingin bersekolah tapi tidak tahu di mana sekolah itu berada, kedua orang tuaku tidak pernah menyuruh diriku untuk sekolah” jawab anak kecil itu.

” apa kakak boleh bertanya siapa namamu?” tanyaku kembali.

“Namaku dina” dengan nada lirih dia menjawabnya.

Denga rasa percaya diri aku pun berbicara dengan ke dua orang tuanya. “permisi… bu, kenapa si Dina tidak sekolah?, Dia itu masih muda” tanyaku kepada ibu Dina. “Buat apa Dina sekolah?, lebih baik dia membantu orangtuanya di rumah” jawaban tegas dari orang tua Dina. Dirikupun terus membujuk agar si Di na dapat sekolah seperti teman temanya namun beliau tetap sama dengan jawabanya tadi untuk tidak menyekolahkan si Dina.

Akupun memiliki keinginan untuk mengajak Dina dan teman-teman yang lian agar belajar dengan diriku di atas bukit pertaa kali Diriku bertemu dengan Dina. Dengan keberanian, mereka tetap pergi menuju puncak bukit untuk belajar walaupun orang tua mereka tidak setuju.

Pada suatu hari di pagi hari sekitar jam 9 salah satu orang tua dari teman Dina tidak sengaja melewati tempat anak anak kecil itu belajar. Berawal dari salah satu orang tua itupun akhirnya seluruh orang tua yang ada di desa berkumpul untuk membangun sekolah hijau untuk anak anak tersebut.

Waktupun berlalu, Aku masih mengajarkan di sini karena diriku tidak bisa lepas dari senyuman Dina dan teman temanya yang tidak bisa aku lupakan. Tiba-tiba si Dina menghampiri diriku yang sedang duduk santai sendirian, “Kak Tika… Aku ingin menjadi seperti kakak, seorang muslimah yang kuat dan dapat memberikan dan membingbing kami semua menjadi seorang anak yang hebat” kata Dina.

Akupun menjawab “Jangan pernah jadi orang lain, jadilah dirimu sendiri dan percayalah…Allah merencanakan yang terbaik untuk hambanya”. Kami berdua pun melanjutkan pelajaran seperti biasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *